Selasa, 22 November 2011

Resensi novel LightShadow



Cinta dan Kesetiaan
Judul Buku     :           Shadowlight
Pengarang      :           Putu Felisia
Penerbit         :           Gradien Mediatama ; Yogyakarta
Tahun Terbit :           Cetakan I ; 2011
Tebal Buku    :           280 halaman ; 13,5 cm x 20 cm

Putu Felisia adalah seorang penyuka genre kriminal romantis. Ia identik dengan segala hal yang berbau Korea. Hal ini mempengaruhi keseluruhan isi cerita, mulai dari nama tokoh, latar dan budayanya. Walaupun demikian, ia tidak menghilangkan budaya Indonesia.

Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, namun dominan menggunakan alur maju. Walaupun demikian, dapat membawa pembacanya menelusuri cerita demi cerita. Tokoh utama pria, Lee Shin (Light) dan Joong (Shadow). Lee Shin adalah seorang pengusaha muda pemilik perusahaan yang menjadi budak ayahnya. Dia adalah salah satu detektif brilian dan agen rahasia sebuah organisasi keamanan (ISM) dengan julukan Light yang dikeluarkan dari tugas lapangan. Sementara itu,  Joong adalah seorang pembunuh bayaran profesional sebuah organisasi Tangan Kematian (Death Hand) berjuluk Shadow yang hanya pernah dilihat oleh Shin. Sementara itu tokoh utama wanitanya, Agni digambarkan sebagai seorang wanita misterius bermata sendu yang merupakan kekasih Joong (Shadow) dan menyerahkan hidupnya pada kematian.

Gaya bahasa yang digunakan pengarang membuat pembaca tidak mengerti dan harus menerka apa maksudnya, karena pengarang banyak menggunakan ungkapan atau kata kunci dalam bahasa Korea dan bahasa Inggris.

Kisah dalam novel ini diawali pertemuan antara Lee Shin dan Joong ketika Lee Shin berhasil menggagalkan usaha Joong membunuh ketua klan mafia Korea yang mengakibatkan ia cidera sehingga dikeluarkan dari tugasnya sebagai agen lapangan. Seolah sudah ditakdirkan, Lee Shin beserta identitas rahasianya, Light, selalu berupaya untuk mengalahkan Shadow. Dia ingin menangkap pembunuh bayangan ini, walau dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Shin hampir saja putus asa saat dia dikeluarkan dari tugas lapangan. Namun, takdir menariknya kembali kepada Shadow, lawannya. Operasi pengamanan seorang teroris mempertemukannya dengan sosok Shadow. Akan tetapi, bersamaan dengan itu muncul Agni, yang membawanya terlibat dalam kasus pembunuhan seorang pimpinan majalah pria dewasa. Perlahan-lahan bersama Agni, dia memasuki dunia rumit organisasi Death Hand-Tangan Kematian yang bertanggung jawab atas berbagai pembunuhan. Mulanya, Shin sempat mencurigai Agni dan ingin menangkapnya. Namun perasaannya telah porak-poranda. Shin menemukan sesuatu mengenai masa lalu Agni yang ternyata terkait erat dengan Shadow.

Dalam melukiskan tokohnya, pengarang menggambarkan pikiran dan semangatnya. Gambaran pengarang terhadap tokohnya tegas dan konsekuen.

Novel ini mengandung amanat yang mengajarkan kepada kita untuk berbagi, menghargai, setia dan meu berkorban untuk orang lain.


Hal yang menarik dari cerita ini adalah permainan perasaan dan imajinasi pengarang yang memberikan suasana romantis namun penuh kewaspadaan.

Namun, dengan segala keindahan dan kelebihannya, buku ini membuat pembacanya mendapat kesulitan dalam menangkap maksud pengarang, terutama karena banyaknya penggunaan ungkapan atau kata kunci dalam bahasa Korea dan bahasa Inggris. Pemakaian ungkapan dan kiasan dalam kalimat, membuat cerita ini terasa berat. Meski demikian, cerita ini tetap memikat dan penuh dengan petualangan yang mencekam. Dengan demikian, novel ini layak untuk dibaca dan dipublikasikan ke masyarakat umum.

Resensator : Aisyah Zumira (XI IPA 1)